Daya Beli Turun 2025? Sebuah Refleksi Menjelang Lebaran

Untuk para pelaku usaha, banyak yang bilang tahun ini terasa lebih buruk bahkan dari saat covid sekalipun. Saat itu orang hanya tertahan untuk ke luar rumah, tetapi tidak dengan hasrat belanja, walaupun mungkin dengan budget separuhnya. “Aku belanja maka aku ada”. Hehe..

Maka saat itu entitas bisnis yang sudah beralih ke online, lockdown malah menjadi berkah tersendiri. Yang belum pun tapi cepat beradaptasi dan membangun “bata per bata” asetnya di online, kecipratan juga berkah ini. 

Biasanya orang bosan maka pergi ke luar rumah, saat lockdown orang bosan pelampiasannya melihat-lihat marketplace dan belanja.

Tahun ini ceritanya berbeda, agak berkebalikan. Orang-orang seperti punya daya belanja tinggi karena cafe-cafe nampak selalu penuh, mall-mall terlihat ramai, linimasa medsos terkesan positif karena banyak yang memperlihatkan video-video liburan.

Tapi jika sesekali berbincang (di cafe yang penuh tadi 🙂), katanya daya beli menurun. Ada yang memang literally jualannya menurun, ada juga yang masih jualannya masih bagus secara kuantiti, tapi kebanyakan terjual jika ada diskonnya, indikator lainnya misalnya banyak sekali yang berbelanja tapi menggunakan skema paylater, atau via “pinjam dulu seratus” 😂.

Saya sampai searching di Threads kata kunci “daya beli turun”, mendapati ada yang menulis bahwa jualan kue keringnya turun hingga setengahnya jika dibanding lebaran tahun lalu. Masih bias sih karena puasanya belum selesai. 

Tanpa bermaksud bicara terlalu jauh, tapi Indonesia pernah resesi di 1998, lalu pulih, kemudian terhantam Covid di 2019, lalu pulih (pulih tidak sih? 😀), mungkin ada siklusnya, kata-Nya: “setelah kesulitan akan datang kemudahan”. Tapi apapun itu, yang masih setia dengan jalan berbisnis, kondisi-kondisi kurang nyaman seperti ini bisa dijadikan sebagai landasan kewaspadaan. Plus dijadikan momentum untuk curi start mengecek ulang bisnis ke dalam. Apakah itu tentang efisiensi, strategi harga baru, ide baru produk, atau menggenjot lagi value brand?. Apapun, yang penting bisa lebih adaptif saat (amit-amit) jika “badai” benar-benar menerjang.

Home

Order via WA